Bayangkan kehidupan seekor lebah. Lebah pekerja hidupnya cuma enam
minggu. Namun dalam hidup yang sependek itu ia tak pernah menyia-nyiakan
waktu. Umur satu hari sang lebah sudah bekerja sebagai pembersih sarang
hingga usia 12 hari. Mulai hari ke-13, ia ”naik pangkat” menjadi
perawat sarang, perawat ratu, perawat telur, dan mengatur kecukupan
makanan buat koloninya sampai usia 20 hari. Mulai hari ke-21 baru
terbang untuk mencari sumber sari di bunga-bunga. Lebah pekerja terus
bekerja tak kenal lelah sampai umurnya habis. Ia tak pernah
menyia-nyiakan waktu dan tak pernah mengeluh.
Coba tengok diri kita. Yang terjadi selama ini, mungkin sebaliknya.
Berapa banyak waktu kita terbuang sia-sia? Sudah tak terhitung. Kita
sering tak menyadari kalau waktu itu begitu berharga. Dalam sehat, kita
merasa hidup ini panjang. Saat jaya, kita merasa hidup seakan tak
berbatas. Padahal jatah hidup kita diatur Sang Maha Pencipta. Hidup bisa
berakhir jika jatahnya sudah habis kendatipun kita sedang sehat
walafiat. Bagaimana kita memaknai hidup?
