Senin, 17 April 2023

DASAR DAN LANGKAH PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEORANG PEMIMPIN

 

DASAR DAN LANGKAH PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEORANG PEMIMPIN

Oleh: Nuurul Hidayati Agustin, S.Pd

 

Tulisan ini bertujuan untuk menyelesaikan tugas dari Program Pendidikan Guru Penggerak pada koneksi antar materi modul 3.1 tentang pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai pemimpin.

 Modul 3.1 memberikan banyak pelajaran bagi seorang guru dalam menjadi pemimpin pembelajaran yang akan mengambil keputusan sesuai dengan nilai kebajikan, keberpihakan pada murid dan tanggung jawab. Pratap Triloka yang dikenalkan oleh Ki Hajar Dewantara memberikan dampak dalam pengambilan keputusan. “Ing Ngarso Sing Tulodo “ yang berarti di depan menjadi contoh atau teladan.  Hal ini memberikan makna bahwa guru akan menjadi teladan baik bagi muridnya dan Pemimpin akan menjadi teladan yang baik bagi orang yang akan dipimpinya.  Murid dan orang yang akan dipimpin tersebut akan menjadikan guru atau pemimpin sebagai teladan yan memiliki nilai-nilai kebajikan sehingga dapat membentuk karakter baik yang patut untuk ditauladani. “Ing Madyo Mangun Karso” berarti ditengah membangun motivasi dengan memberikan prakarsa atau ide. Hal ini sejalan dengan nilai dan peran guru penggerak dalam keberpihakan pada murid, guru diharapkan mampu berkolaborasi dengan seluruh warga sekolah dalam menyusun prakarsa untuk pembelajaran yang lebih baik dan pentingnya menjadi penggerak untuk komunitas praktisi . “Tut Wuri Handayani” dibelakang memberikan dukungan dan semangat. Dalam hal ini guru atau pemimpin juga perlu memberdayakan potensi yang dimiliki guru dan murid melalui kegiatan Coaching. Coaching akan membantu seorang pemimpin dalam melakukan komunikasi dengan orang yang dipimpin untuk meningkatkan kualitas potensi yang dimilikinya. Dalam kegiatan Coaching seorang Coachee akan dapat terbuka menyampaikan permasalahannya karena terdapat rasa kepercayaan yang telah dibangun oleh seoarang Coach atau Pemimpin. Keterampilan Coaching dalam membangun kepercayaan ini yang dapat membantu pemimpin dalam mengambil keputusan.

Nilai berpihak pada murid, mandiri, reflektif, kolaboratif dan inovatif yang telah tertanam dalam diri seorang guru penggerak akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan. Nilai berpihak pada murid akan membuat guru saat mengambil keputusan didasari oleh kesadaran untuk memberdayakan dirinya serta memanfaatkan kekuatan yang dimiliki untuk menciptakan suasana belajar dan proses pembelajaran yang menarik dan berkualitas bagi muridnya. Guru yang telah memiliki nilai mandiri akan bersemangat dalam belajar dan selalu memperbaiki diri. Saat melakukan pengambilan keputusan guru tersebut akan memampukan dirinya dan akan menganalisis terlebih dahulu sehingga mendapatkan keputusan yang bertanggung jawab. Nilai reflektif yang dimiliki seorang guru dapat membantu guru dalam mengambil keputusan, dimana nilai reflektif ini dapat memaknai pengalaman yang terjadi disekitarnya sehingga menjadikan pengalamannya sebagai pelajaran untuk mencapai hal yang positif. Dalam pengambilan keputusan, guru yang memiliki nilai kolaboratif akan dapat membangun rasa percaya, saling menghargai, serta mengakui dan mengelola kekuatan dan perbedaan setiap warga sekolah sehingga dapat saling membantu dalam mengambil keputusan. Nilai inovatif dapat membantu dalam pengambilan keputusan karena guru dengan nilai inovatif dapat memunculkan ide baru dan memiliki sudut pandang yang luas dalam mengambil sebuah keputusan.

Dalam pengambilan keputusan terkadang kita dihadapkan dengan keraguan akan keputusan tersebut. Namun keraguan tersebut dapat dibantu dengan percakapan TIRTA. Oleh karena itu, Pemimpin pembelajar menjadi penting berlatih keterampilan Coaching yang dapat memberdayakan pengembangan diri secara terarah dan berkelanjutan sehingga dapat memaksimalkan kinerjanya. Pada kegiatan Coaching seorang Coach akan mendengarkan lebih banyak dan seorang Coachee akan menemukan ide baru atau cara untuk mengatasi tantangan yang dihadapi dan akan mengambil keputusan yang dapat dipertanggung jawabkan. Prinsip Coaching seperti kemitraan, prises kreatif, dan memaksimalkan potensi dapat membantu guru ataupun pemimpin dalam mengambil keputusan. Alur TIRTA pada tahap Tanggung Jawab mampu mengubah efektivitas pengambilan keputusan yang dilakukan oleh Coachee

Salah satu tujuan dalam pembelajaran sosial dan emosional untuk membuat keputusan yang bertanggung jawab. Hal ini menjadi penting ketika kita dihadapkan dalam pengambilan keputusan maka kita harus dapat memahami prinsip kesadaran penuh, dimana kita perlu mengelolah emosi dengan mengambil jeda untuk menghilangkan emosi yang membelenggu setelah itu kita dapat berpikir nilai-nilai kebajikan apa yang telah ditanamkan untuk mengambil keputusan. Selain itu menggunakan strategi POOCH dengan kesadaran penuh akan membantu guru dalam pengambilan keputusan. Langkah pertama menganalisis masalah, mencari alternative pilihan, menganalisis hasli dan konsekuensi, dan menyusun pilihan keputusan yang akan diambil.

Nilai kebajikan yang dimiliki seorang pendidik dapat mempengaruhi pengambilan keputusan yang akan diambil oleh pendidik dalam masalah moral ataupun etika. Dalam setiap masalah yang terjadi perlu mengidentifikasi terlebih dahulu nilai apakah yang bertentangan dan nilai apa yang dianggap paling penting bagi pendidik tersebut. Nilai-nilai yang dimiliki seorang pendidik menjadi teladan baik untuk murid di sekolah.   

Pengambilan keputusan yang tepat tentunya dilandaskan dari nilai-niliai kebajikan, keberpihakan terhadap murid dan rasa tanggung jawab. Ketika tidak ada yang merasa dirugikan, tidak terdapat pelanggaran hukum dan terdapat nilai kebajikan dalam pengambilan keputusan ini maka keputusan ini merupakan keputusan yang tepat. Keputusan yang tepat akan berdampak terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman karena tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Sekolah penting memiliki kejelasan Visi dan Misi, budaya dan nilai-nilai yang diyakini untuk menjadi acuan dalam pengambilan keputusan. Visi dan Misi sekolah yang diharapkan mencerminkan profil pelajar Pancasila dan di implementasikan dalam kegiatan budaya positif sekolah. Membuat keyakinan kelas dengan musyawarah oleh seluruh warga kelas dan meyakini nilai-nilai kebajikan universal tersebut.   

Tantangan di lingkungan yang terjadi ketika dihadapkan pada kasus dilema etika adalah pengujian keputusan yang terdapat nilai benar lawan benar. Jika pengambilan keputusan yang terdapat nilai benar lawan salah atau termasuk bujukan moral akan dapat dengan mudah memilih nilai kebenaran yang akan dipilih. Namun jika dilema etika benar lawan benar yang terjadi maka perlu menganalisis paradigma yang terjadi dan mencari kebermanfaatan yang lebih baik, meminimalkan keraguan dan meningkatkan kepercayaan diri  dalam mengambil sebuah keputusan. Kesulitan ini akan menjadi mudah saat kita dapat melakukan 9 langkah pengujian keputusan agar tidak terjebak dalam bujukan moral sehingga membuat kita salah dalam memilih keputusan tersebut. Langkah pertama dalam melakukan pengambilan keputusan adalah mengenali nilai yang bertentangan, yang kedua menentukan siapa yang terlibat, dan mengumpulkan fakta yang relevan. Kemudian pengujian benar atau salah, pengujian benar lawan benar, prinsip pengambilan keputusan, investigasi opsi trilema. Terakhir membuat keputusan dan meninjau keputusan untuk refleksi.

Guru akan mengambil keputusan dalam proses pembelajaran yang berpihak pada murid karena sesuai dengan tugas guru menuntun kodrat murid untuk berkembang sehingga murid akan merasa nyaman dan aman selama proses pembelajaran. Hal ini juga akan berdampak terhadap peningkatan kualitas pendidikan, menciptakan budaya positif di sekolah, dan menjadikan sekolah sebagai rumah kedua bagi murid untuk mengasah kemampuan, bakat dan minat secara optimal.

Pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan yang tepat dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan muridnya.  Pengambilan keputusan yang didasarkan dengan nilai-nilai kebajikan akan menanamkan karakter baik terhadap muridnya di masa depan. Nilai yang diyakini akan menjadi pedoman tidak hanya dalam mengambil keputusan namun juga dalam kehidupan sehari-hari. Pemimpin pembelajaran yang berpihak pada murid akan meningkatkan potensi masing-masing anak yang beragam dan mampu menjadi fasilitator dalam pembelajaran.

Kesimpulan dari materi dalam modul 3.1 adalah sebagai pemimpin pembelajar penting mengambil keputusan baik berdasarkan 3 prinsipnya, dan mengkaji serta menguji keputusan yang hendak akan dipilih. Keputusan yang tepat oleh seorang pemimpin dikarenakan tertanamnya nilai kebajikan yang berdampak pada budaya positif di sekolah. Murid akan merasa aman dan nyaman karena keputusan yang berpihak pada murid. Setiap keputusan yang dipilih akan ada masukan dan kritiknya, namun selagi kita memilih nilai benar yang mutlak dalam pengambilan keputusan tersebut, maka secara perlahan melalui keterampilan komunikasi (Coaching) kita dapat mempengaruhi orang yang tidak sependapat dengan diri kita.

Dilema etika dan bujukan moral merupakan situasi yang dirasakan oleh seseorang yang hendak akan mengambil keputusan. Dilema etika merupakan situasi kebingungan dalam mengambil keputusan yang kondisinya terdapat nilai benar lawan benar sedangkan bujukan moral merupakan situasi yang terdapat nilai benar lawan salah. Sebelum mengambil keputusan penting untuk mengkaji 4 paradigma yaitu Individu lawan kelompok, dimana kita dapat memilih antara kebenaran untuk satu orang dan kebenaran untuk kelompok kecil ataupun besar. Rasa Keadilan lawan rasa kasihan, dimana kita akan memilih antara bersikap adil ataukah karena kasih sayang dan kasihan. Kebenaran lawan kesetiaan, dimana kita dihadapkan pada pilihan jujur sesuai fakta ataukah nilai kesetian terhadap orang yang telah dipercaya. Jangka pendek lawan jangka panjang, dimana kita akan memilih keputusan yang terbaik untuk saat ini ataukah untuk masa depan. Dalam pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajar tentunya kita harus memahami dasar pengambilan keputusan yaitu berdasarkan nilai-nilai kebajikan yang telah tertanam dalam diri dan lingkungan, berdasarkan rasa tanggung jawab dan berdasarkan kepada keberpihakan pada murid.

Dampak positif terkait pola pikir dalam pengambilan keputusan dapat dirasakan. Sebelumnya saya beranggapan keputusan dikatakan tepat dan baik saat keputusan tersebut dapat dipertanggung jawabkan. Namun setelah mempelajari materi ini, dalam mengambil keputusan perlu didasarkan oleh nilai-nilai kebajikan dan juga keberpihakan pada murid. Selain itu dalam mengambil keputusan juga perlu mengkaji terlebih dahulu keputusan yang akan diambil sesuai dengan 9 langkah pengambilan keputusan tersebut.

Topik pada modul 3.1 Pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai pemimpin sangat penting untuk dipelajari tidak hanya sebagai guru atau pemimpin, namun dalam kehidupan sehari-hari materi ini akan memberikan banyak manfaat dalam membuat keputusan.