DASAR
DAN LANGKAH PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEORANG PEMIMPIN
Oleh:
Nuurul Hidayati Agustin, S.Pd
Tulisan ini
bertujuan untuk menyelesaikan tugas dari Program Pendidikan Guru Penggerak pada
koneksi antar materi modul 3.1 tentang pengambilan keputusan berbasis
nilai-nilai kebajikan sebagai pemimpin.
Modul 3.1 memberikan banyak pelajaran bagi
seorang guru dalam menjadi pemimpin pembelajaran yang akan mengambil keputusan
sesuai dengan nilai kebajikan, keberpihakan pada murid dan tanggung jawab.
Pratap Triloka yang dikenalkan oleh Ki Hajar Dewantara memberikan dampak dalam
pengambilan keputusan. “Ing Ngarso Sing Tulodo “ yang berarti di depan menjadi
contoh atau teladan. Hal ini memberikan
makna bahwa guru akan menjadi teladan baik bagi muridnya dan Pemimpin akan
menjadi teladan yang baik bagi orang yang akan dipimpinya. Murid dan orang yang akan dipimpin tersebut
akan menjadikan guru atau pemimpin sebagai teladan yan memiliki nilai-nilai
kebajikan sehingga dapat membentuk karakter baik yang patut untuk ditauladani.
“Ing Madyo Mangun Karso” berarti ditengah membangun motivasi dengan memberikan
prakarsa atau ide. Hal ini sejalan dengan nilai dan peran guru penggerak dalam
keberpihakan pada murid, guru diharapkan mampu berkolaborasi dengan seluruh
warga sekolah dalam menyusun prakarsa untuk pembelajaran yang lebih baik dan
pentingnya menjadi penggerak untuk komunitas praktisi . “Tut Wuri Handayani”
dibelakang memberikan dukungan dan semangat. Dalam hal ini guru atau pemimpin
juga perlu memberdayakan potensi yang dimiliki guru dan murid melalui kegiatan
Coaching. Coaching akan membantu seorang pemimpin dalam melakukan komunikasi
dengan orang yang dipimpin untuk meningkatkan kualitas potensi yang
dimilikinya. Dalam kegiatan Coaching seorang Coachee akan dapat terbuka
menyampaikan permasalahannya karena terdapat rasa kepercayaan yang telah
dibangun oleh seoarang Coach atau Pemimpin. Keterampilan Coaching dalam
membangun kepercayaan ini yang dapat membantu pemimpin dalam mengambil
keputusan.
Nilai berpihak
pada murid, mandiri, reflektif, kolaboratif dan inovatif yang telah tertanam
dalam diri seorang guru penggerak akan berpengaruh terhadap pengambilan
keputusan. Nilai berpihak pada murid akan membuat guru saat mengambil keputusan
didasari oleh kesadaran untuk memberdayakan dirinya serta memanfaatkan kekuatan
yang dimiliki untuk menciptakan suasana belajar dan proses pembelajaran yang
menarik dan berkualitas bagi muridnya. Guru yang telah memiliki nilai mandiri
akan bersemangat dalam belajar dan selalu memperbaiki diri. Saat melakukan
pengambilan keputusan guru tersebut akan memampukan dirinya dan akan
menganalisis terlebih dahulu sehingga mendapatkan keputusan yang bertanggung
jawab. Nilai reflektif yang dimiliki seorang guru dapat membantu guru dalam
mengambil keputusan, dimana nilai reflektif ini dapat memaknai pengalaman yang
terjadi disekitarnya sehingga menjadikan pengalamannya sebagai pelajaran untuk
mencapai hal yang positif. Dalam pengambilan keputusan, guru yang memiliki
nilai kolaboratif akan dapat membangun rasa percaya, saling menghargai, serta
mengakui dan mengelola kekuatan dan perbedaan setiap warga sekolah sehingga
dapat saling membantu dalam mengambil keputusan. Nilai inovatif dapat membantu
dalam pengambilan keputusan karena guru dengan nilai inovatif dapat memunculkan
ide baru dan memiliki sudut pandang yang luas dalam mengambil sebuah keputusan.
Dalam
pengambilan keputusan terkadang kita dihadapkan dengan keraguan akan keputusan
tersebut. Namun keraguan tersebut dapat dibantu dengan percakapan TIRTA. Oleh
karena itu, Pemimpin pembelajar menjadi penting berlatih keterampilan Coaching
yang dapat memberdayakan pengembangan diri secara terarah dan berkelanjutan
sehingga dapat memaksimalkan kinerjanya. Pada kegiatan Coaching seorang Coach
akan mendengarkan lebih banyak dan seorang Coachee akan menemukan ide baru atau
cara untuk mengatasi tantangan yang dihadapi dan akan mengambil keputusan yang
dapat dipertanggung jawabkan. Prinsip Coaching seperti kemitraan, prises
kreatif, dan memaksimalkan potensi dapat membantu guru ataupun pemimpin dalam
mengambil keputusan. Alur TIRTA pada tahap Tanggung Jawab mampu mengubah
efektivitas pengambilan keputusan yang dilakukan oleh Coachee
Salah satu tujuan
dalam pembelajaran sosial dan emosional untuk membuat keputusan yang
bertanggung jawab. Hal ini menjadi penting ketika kita dihadapkan dalam
pengambilan keputusan maka kita harus dapat memahami prinsip kesadaran penuh,
dimana kita perlu mengelolah emosi dengan mengambil jeda untuk menghilangkan
emosi yang membelenggu setelah itu kita dapat berpikir nilai-nilai kebajikan
apa yang telah ditanamkan untuk mengambil keputusan. Selain itu menggunakan
strategi POOCH dengan kesadaran penuh akan membantu guru dalam pengambilan
keputusan. Langkah pertama menganalisis masalah, mencari alternative pilihan,
menganalisis hasli dan konsekuensi, dan menyusun pilihan keputusan yang akan
diambil.
Nilai
kebajikan yang dimiliki seorang pendidik dapat mempengaruhi pengambilan
keputusan yang akan diambil oleh pendidik dalam masalah moral ataupun etika.
Dalam setiap masalah yang terjadi perlu mengidentifikasi terlebih dahulu nilai
apakah yang bertentangan dan nilai apa yang dianggap paling penting bagi
pendidik tersebut. Nilai-nilai yang dimiliki seorang pendidik menjadi teladan
baik untuk murid di sekolah.
Pengambilan
keputusan yang tepat tentunya dilandaskan dari nilai-niliai kebajikan,
keberpihakan terhadap murid dan rasa tanggung jawab. Ketika tidak ada yang
merasa dirugikan, tidak terdapat pelanggaran hukum dan terdapat nilai kebajikan
dalam pengambilan keputusan ini maka keputusan ini merupakan keputusan yang
tepat. Keputusan yang tepat akan berdampak terciptanya lingkungan yang positif,
kondusif, aman dan nyaman karena tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Sekolah
penting memiliki kejelasan Visi dan Misi, budaya dan nilai-nilai yang diyakini
untuk menjadi acuan dalam pengambilan keputusan. Visi dan Misi sekolah yang
diharapkan mencerminkan profil pelajar Pancasila dan di implementasikan dalam
kegiatan budaya positif sekolah. Membuat keyakinan kelas dengan musyawarah oleh
seluruh warga kelas dan meyakini nilai-nilai kebajikan universal tersebut.
Tantangan di
lingkungan yang terjadi ketika dihadapkan pada kasus dilema etika adalah
pengujian keputusan yang terdapat nilai benar lawan benar. Jika pengambilan
keputusan yang terdapat nilai benar lawan salah atau termasuk bujukan moral
akan dapat dengan mudah memilih nilai kebenaran yang akan dipilih. Namun jika
dilema etika benar lawan benar yang terjadi maka perlu menganalisis paradigma
yang terjadi dan mencari kebermanfaatan yang lebih baik, meminimalkan keraguan dan
meningkatkan kepercayaan diri dalam
mengambil sebuah keputusan. Kesulitan ini akan menjadi mudah saat kita dapat
melakukan 9 langkah pengujian keputusan agar tidak terjebak dalam bujukan moral
sehingga membuat kita salah dalam memilih keputusan tersebut. Langkah pertama
dalam melakukan pengambilan keputusan adalah mengenali nilai yang bertentangan,
yang kedua menentukan siapa yang terlibat, dan mengumpulkan fakta yang relevan.
Kemudian pengujian benar atau salah, pengujian benar lawan benar, prinsip
pengambilan keputusan, investigasi opsi trilema. Terakhir membuat keputusan dan
meninjau keputusan untuk refleksi.
Guru akan
mengambil keputusan dalam proses pembelajaran yang berpihak pada murid karena
sesuai dengan tugas guru menuntun kodrat murid untuk berkembang sehingga murid
akan merasa nyaman dan aman selama proses pembelajaran. Hal ini juga akan
berdampak terhadap peningkatan kualitas pendidikan, menciptakan budaya positif
di sekolah, dan menjadikan sekolah sebagai rumah kedua bagi murid untuk
mengasah kemampuan, bakat dan minat secara optimal.
Pemimpin
pembelajaran dalam mengambil keputusan yang tepat dapat mempengaruhi kehidupan
atau masa depan muridnya. Pengambilan
keputusan yang didasarkan dengan nilai-nilai kebajikan akan menanamkan karakter
baik terhadap muridnya di masa depan. Nilai yang diyakini akan menjadi pedoman
tidak hanya dalam mengambil keputusan namun juga dalam kehidupan sehari-hari.
Pemimpin pembelajaran yang berpihak pada murid akan meningkatkan potensi
masing-masing anak yang beragam dan mampu menjadi fasilitator dalam
pembelajaran.
Kesimpulan
dari materi dalam modul 3.1 adalah sebagai pemimpin pembelajar penting
mengambil keputusan baik berdasarkan 3 prinsipnya, dan mengkaji serta menguji
keputusan yang hendak akan dipilih. Keputusan yang tepat oleh seorang pemimpin
dikarenakan tertanamnya nilai kebajikan yang berdampak pada budaya positif di
sekolah. Murid akan merasa aman dan nyaman karena keputusan yang berpihak pada
murid. Setiap keputusan yang dipilih akan ada masukan dan kritiknya, namun selagi
kita memilih nilai benar yang mutlak dalam pengambilan keputusan tersebut, maka
secara perlahan melalui keterampilan komunikasi (Coaching) kita dapat mempengaruhi
orang yang tidak sependapat dengan diri kita.
Dilema etika
dan bujukan moral merupakan situasi yang dirasakan oleh seseorang yang hendak
akan mengambil keputusan. Dilema etika merupakan situasi kebingungan dalam
mengambil keputusan yang kondisinya terdapat nilai benar lawan benar sedangkan
bujukan moral merupakan situasi yang terdapat nilai benar lawan salah. Sebelum
mengambil keputusan penting untuk mengkaji 4 paradigma yaitu Individu lawan kelompok, dimana kita
dapat memilih antara kebenaran untuk satu orang dan kebenaran untuk kelompok
kecil ataupun besar. Rasa Keadilan lawan
rasa kasihan, dimana kita akan memilih antara bersikap adil ataukah karena
kasih sayang dan kasihan. Kebenaran
lawan kesetiaan, dimana kita dihadapkan pada pilihan jujur sesuai fakta
ataukah nilai kesetian terhadap orang yang telah dipercaya. Jangka pendek lawan jangka panjang,
dimana kita akan memilih keputusan yang terbaik untuk saat ini ataukah untuk
masa depan. Dalam pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajar tentunya
kita harus memahami dasar pengambilan keputusan yaitu berdasarkan nilai-nilai
kebajikan yang telah tertanam dalam diri dan lingkungan, berdasarkan rasa
tanggung jawab dan berdasarkan kepada keberpihakan pada murid.
Dampak positif
terkait pola pikir dalam pengambilan keputusan dapat dirasakan. Sebelumnya saya
beranggapan keputusan dikatakan tepat dan baik saat keputusan tersebut dapat
dipertanggung jawabkan. Namun setelah mempelajari materi ini, dalam mengambil
keputusan perlu didasarkan oleh nilai-nilai kebajikan dan juga keberpihakan
pada murid. Selain itu dalam mengambil keputusan juga perlu mengkaji terlebih
dahulu keputusan yang akan diambil sesuai dengan 9 langkah pengambilan
keputusan tersebut.
Topik pada
modul 3.1 Pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai pemimpin
sangat penting untuk dipelajari tidak hanya sebagai guru atau pemimpin, namun
dalam kehidupan sehari-hari materi ini akan memberikan banyak manfaat dalam
membuat keputusan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar