Membumikan Keyakinan Kelas, Mewujudkan Indonesia Emas 2045
Indonesia merupakan negara
terjajah sejak tahun 1596 yakni dimulai dari datangnya bangsa Portugis dan
Belanda yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman. Banyak bangsa lain yang ingin menguasai
Indonesia dimulai dari bangsa Portugis hingga bangsa Jepang. Sampai pada
akhirnya, Indonesia dapat meraih kemerdekaannya pada tahun 1945 yakni tepatnya
pada tanggal 17 Agustus. Kemerdekaan ini tentunya tidak diraih dengan mudah
oleh bangsa Indonesia, melainkan dengan perjuangan dan pengorbanan yang begitu
besar dari para pejuang dan masyarakat yang menginginkan bangsa Indonesia
terbebas dari deru penderitaan para penjajah. Kemerdekaan Indonesia yang diraih
pada tahun 1945 nanti akan genap berumur 100 tahun pada tahun 2045 dimana pada
tahun ini terdapat berbagai agenda untuk menjadi Indonesia emas. Agenda ini
untuk menunjukkan bahwa bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang besar dengan
kurang lebih 100 tahun kemerdekaan yang diraihnya. Indonesia emas atau
Indonesia gemilang pada tahun 2045 artinya pada masa ini Indonesia akan
mencapai kejayaan di berbagai bidang.
Menyongsong
generasi emas 2045 pada kurun waktu 2020-2035 mendatang, Indonesia akan
mendapatkan bonus demografi dimana pada saat itu jumlah usia produktif (umur
15-64 tahun) jauh melebihi kelompok usia tidak produktif (anak-anak usia 14
tahun kebawah dan orang tua berusia 65 keatas (Triyono: 2016). Artinya selama
terjadi bonus demografi tersebut, komposisi penduduk Indonesia akan didominasi
oleh kelompok usia produktif, yang besar kemungkinan akan menentukan masa depan
bangsa Indonesia yaitu para pemuda generasi saat ini. Hal ini akan menjadi
peluang besar bagi bangsa Indonesia untuk meninggalkan label negara berkembang
menjadi negara maju.
Generasi yang bermutu bergantung kepada kualitas
pendidikannya karena faktor pendidikan sangat menentukan pengembangan di setiap
sektor bidang di Indonesia. Hanya melalui pendidikan bangsa Indonesia dapat
menjadi maju dengan mengejar ketertinggalan dari bangsa lain baik dalam bidang sains,
teknologi maupun ekonomi. Sehingga pendidikan yang bermutu harus diupayakan
oleh semua pihak agar terwujud Indonesia emas tahun 2045.
Jika berbicara Pendidikan, maka peran
gurulah yang sangat besar untuk membantu siswa mencapai tujuan pendidikan Nasional
yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal ini seiring dengan konsep pendidikan
menurut Ki Hadjar Dewantara dengan menerapkan “Sistem Among”, “Tutwuri
Handayani” dan “Tringa”. “Sistem Among”
yaitu cara pendidikan yang dipakai dalam Tamansiswa, mengemong (anak) berarti
memberi kebebasan anak bergerak menurut kemauannya, tetapi pamong/guru akan
bertindak, kalau perlu dengan paksaan apabila keinginan anak membahayakan
keselamatannya. “Tutwuri Handayani” berarti pemimpin mengikuti dari belakang,
memberi kemerdekaan bergerak yang dipimpinya, tetapi handayani, mempengaruhi
dengan daya kekuatan, kalau perlu dengan paksaan dan kekerasan apabila
kebebasan yang diberikan itu dipergunakan untuk menyeleweng dan akan membahayakan
diri. “Tringa” yang meliputi ngerti, ngrasa, dan nglakoni, mengingatkan
terhadap segala ajaran, cita-cita hidup yang kita anut diperlukan pengertian, kesadaran dan
kesungguhan dalam pelaksanaanya. Tahu dan mengerti saja tidak cukup, kalau
tidak merasakan, menyadari, dan tidak ada artinya kalau tidak melaksanakan dan
tidak memperjuangkan.akat (Ki Hajar Dewantara: 1937). Melihat peran guru yang
sangat besar, penting kiranya seorang guru memahami dan menjiwai perannya
sebagai salah satu agen perubahan bagi bangsa ini, salah satunya menciptakan
budaya positif di dalam kelas.
Budaya positif
merupakan pembiasaan-pembiasaan yang bernilai positif dengan sejumlah
kegiatan yang mampu menumbuhkan bahkan memaksimalkan karakter murid berjiwa
Profil Pelajar Pancasila. Salah satu unsur utama dari budaya positif
adalah disiplin positif yang berhubungan erat dengan tercapainya tujuan
pendidikan sesuai dengan filosofi KHD. Pembiasaan-pembiasaan tersebut berdasar
pada kebajikan nilai-nilai universal sehingga disiplin diri bukan lagi menjadi
kewajiban melainkan kebutuhan. Terlebih jika pembiasaan tersebut dilakukan
secara bersama-sama dalam bentuk keyakinan kelas, maka motivasi intrinsik akan
tumbuh subur dalam jiwa murid-murid dan mereka akan terlepas dari hukuman serta
tidak tergantung pada penghargaan. Pada akhirnya, motivasi intrinsik yang dimiliki
oleh kelas akan berdampak pada pembelajaran berkualitas dan bermakna sehingga
tujuan Pendidikan yaitu kebahagiaan dan keselamatan yang setinggi-tingginya
akan didapatkan murid-murid sebagai generasi bangsa dalam menyongsong Indonesai
Emas 2045.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar