Rabu, 08 Februari 2023

Membumikan Keyakinan Kelas, Mewujudkan Indonesia Emas 2045

 


Membumikan Keyakinan Kelas, Mewujudkan Indonesia Emas 2045 
 

Indonesia merupakan negara terjajah sejak tahun 1596 yakni dimulai dari datangnya bangsa Portugis dan Belanda yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman. Banyak bangsa lain yang ingin menguasai Indonesia dimulai dari bangsa Portugis hingga bangsa Jepang. Sampai pada akhirnya, Indonesia dapat meraih kemerdekaannya pada tahun 1945 yakni tepatnya pada tanggal 17 Agustus. Kemerdekaan ini tentunya tidak diraih dengan mudah oleh bangsa Indonesia, melainkan dengan perjuangan dan pengorbanan yang begitu besar dari para pejuang dan masyarakat yang menginginkan bangsa Indonesia terbebas dari deru penderitaan para penjajah. Kemerdekaan Indonesia yang diraih pada tahun 1945 nanti akan genap berumur 100 tahun pada tahun 2045 dimana pada tahun ini terdapat berbagai agenda untuk menjadi Indonesia emas. Agenda ini untuk menunjukkan bahwa bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang besar dengan kurang lebih 100 tahun kemerdekaan yang diraihnya. Indonesia emas atau Indonesia gemilang pada tahun 2045 artinya pada masa ini Indonesia akan mencapai kejayaan di berbagai bidang.

Menyongsong generasi emas 2045 pada kurun waktu 2020-2035 mendatang, Indonesia akan mendapatkan bonus demografi dimana pada saat itu jumlah usia produktif (umur 15-64 tahun) jauh melebihi kelompok usia tidak produktif (anak-anak usia 14 tahun kebawah dan orang tua berusia 65 keatas (Triyono: 2016). Artinya selama terjadi bonus demografi tersebut, komposisi penduduk Indonesia akan didominasi oleh kelompok usia produktif, yang besar kemungkinan akan menentukan masa depan bangsa Indonesia yaitu para pemuda generasi saat ini. Hal ini akan menjadi peluang besar bagi bangsa Indonesia untuk meninggalkan label negara berkembang menjadi negara maju.

Generasi yang bermutu bergantung kepada kualitas pendidikannya karena faktor pendidikan sangat menentukan pengembangan di setiap sektor bidang di Indonesia. Hanya melalui pendidikan bangsa Indonesia dapat menjadi maju dengan mengejar ketertinggalan dari bangsa lain baik dalam bidang sains, teknologi maupun ekonomi. Sehingga pendidikan yang bermutu harus diupayakan oleh semua pihak agar terwujud Indonesia emas tahun 2045.

Jika berbicara Pendidikan, maka peran gurulah yang sangat besar untuk membantu siswa mencapai tujuan pendidikan Nasional yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal ini seiring dengan konsep pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara dengan menerapkan “Sistem Among”, “Tutwuri Handayani” dan “Tringa”.  “Sistem Among” yaitu cara pendidikan yang dipakai dalam Tamansiswa, mengemong (anak) berarti memberi kebebasan anak bergerak menurut kemauannya, tetapi pamong/guru akan bertindak, kalau perlu dengan paksaan apabila keinginan anak membahayakan keselamatannya. “Tutwuri Handayani” berarti pemimpin mengikuti dari belakang, memberi kemerdekaan bergerak yang dipimpinya, tetapi handayani, mempengaruhi dengan daya kekuatan, kalau perlu dengan paksaan dan kekerasan apabila kebebasan yang diberikan itu dipergunakan untuk menyeleweng dan akan membahayakan diri. “Tringa” yang meliputi ngerti, ngrasa, dan nglakoni, mengingatkan terhadap segala ajaran, cita-cita hidup yang kita anut  diperlukan pengertian, kesadaran dan kesungguhan dalam pelaksanaanya. Tahu dan mengerti saja tidak cukup, kalau tidak merasakan, menyadari, dan tidak ada artinya kalau tidak melaksanakan dan tidak memperjuangkan.akat (Ki Hajar Dewantara: 1937). Melihat peran guru yang sangat besar, penting kiranya seorang guru memahami dan menjiwai perannya sebagai salah satu agen perubahan bagi bangsa ini, salah satunya menciptakan budaya positif di dalam kelas.

Budaya positif merupakan pembiasaan-pembiasaan yang bernilai positif dengan sejumlah kegiatan yang mampu menumbuhkan bahkan memaksimalkan karakter murid berjiwa Profil Pelajar Pancasila. Salah satu unsur utama dari budaya positif adalah disiplin positif yang berhubungan erat dengan tercapainya tujuan pendidikan sesuai dengan filosofi KHD. Pembiasaan-pembiasaan tersebut berdasar pada kebajikan nilai-nilai universal sehingga disiplin diri bukan lagi menjadi kewajiban melainkan kebutuhan. Terlebih jika pembiasaan tersebut dilakukan secara bersama-sama dalam bentuk keyakinan kelas, maka motivasi intrinsik akan tumbuh subur dalam jiwa murid-murid dan mereka akan terlepas dari hukuman serta tidak tergantung pada penghargaan. Pada akhirnya, motivasi intrinsik yang dimiliki oleh kelas akan berdampak pada pembelajaran berkualitas dan bermakna sehingga tujuan Pendidikan yaitu kebahagiaan dan keselamatan yang setinggi-tingginya akan didapatkan murid-murid sebagai generasi bangsa dalam menyongsong Indonesai Emas 2045.

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar